Langsung ke konten utama

Fitrah Seksual dan Gender dalam Pendidikan Anak. Review Kelompok 8.

Persentasi kali ini, membahas kembali tentang  definisi fitrah seksualitas dan gender dalam pendidikan anak. 

Apa itu fitrah seksualitas? Menurut Harry Santosa, penulis buku “Fitrah Based Education”, fitrah seksual adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa, dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.1 Mengapa fitrah seksualitas ini perlu dibangkitkan? Jawabannya sederhana, karena laki-laki dan perempuan itu berbeda. Perbedaan ini terlihat tidak hanya dari segi fisik, tetapi juga dari anatomi otak yang kemudian berpengaruh pada cara seseorang berfikir dan bertindak.

Kapan fitrah seksualitas ini gagal dibangkitkan? Fitrah itu sendiri adalah bawaan lahir2 maka pada dasarnya, setiap manusia memiliki fitrah seksualitas ini sejak ia dilahirkan. Idealnya fitrah ini dibangkitkan sejak seseorang hari pertama ia lahir ke dunia ini. Namun, ada beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi proses pembangkitan fitrah seksualitas pada anak. 

Faktor-faktor ini dapat berasal dari dalam maupun luar keluarga. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut. 

Faktor internal dari dalam keluarga 


  1. Ketidakpahaman orang tua/pengasuh mengenai fitrah seksualitas ini. Misal: memaklumi mandi bersama dan tidur lintas gender dengan alasan masih kecil.
  2. Kurangnya peran aktif orang tua di dalam membersamai anak. Misal: karena tuntutan pekerjaan, ayah jarang bermain bersama anak sehingga kekurangan figur ayah.
  3. Perkembangan fitrah seksualitas orang tua yang tidak sempurna akibat kesalahan didik di masa lalu yang menyebabkan ketidakjelasan porsi peran ayah dan ibu. Misal: ayah galau, ibu dominan.
  4. Adanya pendapat umum bahwa laki-laki harus lebih berani dan mandiri dari perempuan. Hal ini menyebabkan anak laki-laki (terutama yang beranjak remaja) enggan dekat dengan orangtuanya. Demikian pula dengan orangtua yang cenderung lebih “membebaskan” anak laki-lakinya.
  5. Adanya kekeliruan dalam peran gender, misalnya anak laki-laki dilarang menangis. Karena laki-laki dianggap kuat. Anak laki-laki tidak boleh mengerjakan pekerjaan domestik karena itu merupakan pekerjaan perempuan. Bukan tidak mungkin kelak, anak tersebut menjadi kurang empati terhadap istri. Bahkan menyerahkan tugas penuh mendidik anak hanya kepada istrinya saja.
Faktor eksternal dari luar keluarga
  1. Ketidakseimbangan gender guru/tenaga pendidik di fasilitas pendidikan. Guru pendidikan usia dini hingga sekolah dasar umumnya adalah wanita. Sebuah riset sederhana, menunjukkan bahwa sebuah kelas yang diasuh oleh guru yang sepasang (laki-laki dan perempuan) menunjukkan keseimbangan pertumbuhan emosional dan rasional yang lebih baik.
  2. Tayangan dan tontonan media yang tidak mendukung. Misal: Tayangan televisi yang menampilkan para laki-laki berdandan seperti wanita.
Apa tantangan yang muncul ketika fitrah seksualitas ini tercabut atau gagal dibangkitkan? Ada beberapa tantangan yang kemudian muncul ketika fitrah ini tercabut atau gagal dibangkitkan. Dalam berbagai macam kondisi, fitrah seksual ini bisa saja hilang sehingga kelak akan membawa permasalahan. Anak-anak yang tercabut dari fitrah seksualitasnya bisa saja mengalami gangguan kejiwaan hingga penyimpangan seksual. Beberapa diantaranya adalah fenomena LGBTQ (lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer), kejahatan seksual pada anak, hingga kekerasan dalam rumah tangga. Tantangan yang akan kami bahas dalam diskusi ini berkaitan dengan isu penyetaraan gender (gender equality).


Apa kaitan fitrah seksualitas dengan isu penyetaraan gender? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) gender diartikan dengan, jenis kelamin Arti tersebut hampir sama dengan kata seks. Namun demikian, gender dan seks dalam beberapa bahasan diartikan dengan dua hal yang berbeda. Seks adalah dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat ketika lahir. Gender lebih merujuk pada tingkah laku, perasaan, dan sikap yang diasosiasikan dengan jenis kelamin seseorang berdasarkan kontruksi sosial di masyarakat. Secara lebih rinci perbedaan antara seks dan gender ada dalam tabel berikut ini. 



 “Gender Equality means that women and men have equal conditions for realizing their full human rights and for contributing to, and benefiting from, economic, social, cultural and political development. Gender equality is therefore the equal valuing by society of the similarities and the differences of men and women, and the roles they play. It is based on women and men being full partners in their home, their community and their society.”

Dalam pengertian di atas jelas disebutkan adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan serta peran dari masing-masing. Namun permasalahan yang terjadi adalah seringkali keadaan sosial tentang penyerataan gender (gender equality) membuat seseorang seolah melupakan fitrah seksualnya. Tidak sedikit yang mengartikan penyetaraan gender ini sebagai usaha untuk menyamaratakan peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Sehingga anak yang tidak cukup dikenalkan oleh fitrah seksualitasnya, kelak mungkin menjadi kebingungan mengenai identitasnya sendiri. Untuk itulah peran orang tua sangat dibutuhkan. Anak-anak harus didekatkan kepada ibu dan ayahnya sesuai dengan tahapan usianya. Sehingga anak tidak hanya melihat satu sisi saja, tetapi menjadi dua sisi, yaitu sisi maskulinitas dan feminitas secara seimbang. Pada kenyataannya isu kesetaraan gender ini seringkali digunakan sebagai wahana pembenaran atas fenomena gender di masyarakat saat ini , seperti hal berikut ini:

  • Pendidikan perempuan diarahkan untuk mengambil tugas ekonomi laki-laki secara penuh dan melupakan tugas sebagai seorang istri dan ibu. 
  • Kaum laki-laki terbuai hingga melupakan kodratnya sebagai qowwam ‘ala an-nisa’ (pelindung kaum wanita).
  • Pendidikan berorientasi materialisme menjauhkan perempuan dari keinginan berumah tangga dan memiliki anak.
  • Hal yang paling ekstrem, ide kesetaraan gender ini berujung pada kebebasan memilih dan mengganti jenis kelamin.
Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah dampak dari isu ini? Solusi mendasar yang dapat dilakukan adalah memastikan setiap anak memahami fitrah seksualitasnya. Ketika seseorang paham sepenuhnya apakah ia laki-laki ataukah ia perempuan, maka ia akan berfikir dan bertindak selayaknya laki-laki atau selayaknya perempuan. Sehingga nantinya kesetaraan gender bukan lagi konsep harus sama antara perempuan dan laki-laki. Karena pada dasarnya secara biologis, laki-laki dan perempuan berbeda. Sehingga ketika memahami konsep gender dan fitrah seksualitas, anak laki-laki dan perempuan menjadi tahu identitasnya. Bukan sama persis tapi harmonis, yaitu saling melengkapi.


 Bagaimana peran keluarga untuk menumbuhkan fitrah seksualitas?

Rumah adalah gerbang pertama dan utama (dan yang paling mudah dikendalikan) untuk memastikan setiap anak paham akan fitrah seksualitasnya. Beberapa usaha yang dapat dilakukan dalam membangkitkan fitrah seksualitas ini, diantaranya adalah sebagai berikut ini:

  1. Mengajarkan nilai-nilai agama dalam keluarga. Islam jelas-jelas membedakan laki-laki dan perempuan. Misal. Mengenalkan mahram, memisahkan tidur anak laki-laki dan perempuan, perbedaan aurat antara laki-laki dan perempuan, dan hal lainnya.
  2. Memastikan orang tua memiliki kesamaan pengertian dan cara pandang mengenai fitrah seksualitas ini, sehingga mampu menjadi figur yang sesuai dengan perannya.
  3. Memastikan pengasuh (nenek, kakek, babysitter, guru daycare/TK) mengetahui prinsip pendidikan fitrah seksualitas yang dijalankan oleh orang tua, sehingga muncul konsistensi dan menghindarkan anak dari kebingungan. Misal: memberi pengertian ke neneknya untuk tidak menidurkan anak laki-laki seranjang/sekamar dengan sepupu perempuannya.
  4. Orang tua membersamai anak secara seimbang sesuai dengan tahap perkembangan usianya.
  5. Tidak membedakan anak laki-laki dan anak perempuan dalam hal kebutuhan akan waktu, perhatian, dan kasih sayang. 
  6. Komunikasi yang baik antara anak dan orang tua. Orang tua tidak pernah menyerah untuk berusaha dekat dengan anak. Memasuki usia pra-remaja (10-14 tahun) anak cenderung mulai menjauh dari orangtua karena alasan gengsi, takut dibilang anak mami, dan lainlain, padahal usia ini puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.
  7. Ketahanan keluarga dalam memegang teguh nilai-nilai moral dan keagamaan. Tidak mudah terpengaruh dengan nilai-nilai yang menyimpang, meskipun di sekitar lingkungannya menganut paham tersebut.

Dalam diskusi persentasi kali ini, banyak sekali contoh dan dampak yang terjadi jika fitrah seksualitas dan pemahaman kesetaraan gender tidak dapat dipahami oleh anak. Oleh karena nya memastikan setiap anak memahami fitrah seksualitasnya itu sangat penting. Ketika seseorang paham sepenuhnya maka ia akan berfikir dan bertindak selayaknya laki-laki dan selayaknya perempuan. Anak laki-laki dan perempuan menjadi tahu identitasnya. Bukan sama persis tapi harmonis, melengkapi satu sama lain.


Sumber : 
  1. Santosa, Harry. Fitrah Based Education. (Yayasan Cahaya Mutiara Timur) 2017 (cetakan ketiga). Halaman 188. 
  2. Pengertian fitrah berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Diakses dari https://kbbi.web.id/fitrah (diakses 27 September 2018 pukul 18.30).
  3. Santosa, Harry. Fitrah Based Education. (Yayasan Cahaya Mutiara Timur) 2017 (cetakan ketiga). Halaman 190.
  4. PKBI DIY, Tim. Pengertian Dan Perbedaan Gender Dengan Seks. https://pkbi-diy.info/pengertian-dan-perbedaan-gender-dengan-seks (dia kses 28 September 2018 pukul 11.30).
  5. Pawitasari, Erma Dr. Biarkan Perempuan Berlari Seperti Perempuan, ‘Salah Kaprah’ Pendidikan Gender. https://www.republika.co.id/berita/koran/news-update/15/06/18/nq4x4qbiarkan-perempuan-berlari-seperti-perempuan-salah-kaprahpendidikan-gender (diakses 28 September 2018 pukul 13.00)


#harike11
#tantangan10hari
#level11
#kuliahbundsayiip
#fitrahseksualitas


Irma Tazkiyya
Jeddah, KSA





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Bunda Cekatan, Tahap Satu

Selamat Datang Di Kelas Telur-telur Ditahap ini kami melakukan proses belajar mengenal tentang siapa diri ini. Sehingga nantinya kami paham akan cekatan di bidang apa. Hal ini yang dapat membuat kita menentukan kebutuhan belajarnya apa saja. Mengetahui bagaimana mencarinya. LEARN, How to Learn. Belajar Merdeka, Merdeka Belajar. Senang sekali mendengar slogan ini, kita bebas untuk belajar apa saja. Dengan merdeka belajar dan belajar merdeka, secara tidak langsung merangsang berfikir dan berkreatifitas. Belajar di bunda cekatan ini adalah proses bermain bersama. Semua bisa menjadi guru, dan semua bisa menjadi murid. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah lacak kekuatan. Mengapa harus melacak kekuatan? karena kita ini spesial. Selama ini menjadi biasa saja karena kita 'sekedar' melakukan kegiatan secara rutin. Jadi ingat perkataaan Pak Dodik Maryanto 'Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu. Tidak ada hukum...

Mengamati Gaya Belajar Anak -Part10

"Ibu, sini irma cek tensi ulang, kemarin kan tekanan darah ibu rendah". Saut ku kepada nenek nya qifa.  Sambil mengambil alat tensi yang tersimpan di lemari. Sambil memegang tangan kiri ibu, saya melilitkan manset alat tensi ke lengan ibu.Saya sadar ada anak kecil yang sibuk memerhatikan kami. Dia adalah qifa. 😍 Selesainya saya memeriksa tekanan darah ibu, qifa langsung mengambil alih alat tensi dan stetoskop yang saya pakai. Qifa mengulang apa yang saya kerjakan, dari memasang stetoskop di telinganya sampai melilitkan manset ke lengan neneknya. Walaupun letak manset yang dipasangnya salah. πŸ˜† Dengan gaya seakan-akan 'mahir' melakukan pemeriksaan tekanan darah, qifa mengoceh-ngoceh ga jelas, seakan menjelaskan hasil pemeriksaan kepada neneknya. Ahhhh.. anak cerdas. Saut ku kepada qifa. Saat ini qifa memang senang sekali meniru apa yang dia lihat. Senang menggoyangkan kepala jika ada musik yang didengarnya. Bisa menyelesaikan puzzle-puzzle dengan melihat le...

Anak adalah Bintang. -part3

Qifa (22 bulan) senang banget kalau dengar suara musik. Kalau ada musik atau lagu anak anak qifa langsung spontan saja ikut bernyanyi dengan khas suara bayi nya 😍 Kalau dilihat dari orang tua nya, sama sekali ga ngerti sama musik. Papah nya si bisa dibilang cukup bagus suaranya buat bernyanyi. Nahhh, apalagi mamah nya, bagus banget tpii lebih bagus lagi kalau diam πŸ˜‚πŸ˜‚... Ada cerita saat qifa lagi nangis karena dilarang mamah nya untuk minum air es karena sedang batuk pilek, dialihkan dengan musik langsung diam dan langsung senyum- senyum πŸ˜…. Kalau dilihat lihat, jika dengar suara musik atau lagu lagu qifa langsung bereaksi happy, jangan jangan qifa punya bakat bermusik.. Entahlah, apapun nanti bakat mu nak, mamah akan dukung kamu slalu. 😍 #tantanganlevel7 #day3 #semuaanakadalahbintang #institutibuprofesional #kelasbundasayang Irma Tazkiyya Jeddah, KSA