Persentasi kali ini, membahas kembali tentang definisi fitrah seksualitas dan gender dalam pendidikan anak.
Apa itu fitrah seksualitas? Menurut Harry Santosa, penulis buku “Fitrah Based Education”, fitrah seksual adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa, dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.1 Mengapa fitrah seksualitas ini perlu dibangkitkan? Jawabannya sederhana, karena laki-laki dan perempuan itu berbeda. Perbedaan ini terlihat tidak hanya dari segi fisik, tetapi juga dari anatomi otak yang kemudian berpengaruh pada cara seseorang berfikir dan bertindak.
Kapan fitrah seksualitas ini gagal dibangkitkan?
Fitrah itu sendiri adalah bawaan lahir2 maka pada dasarnya, setiap
manusia memiliki fitrah seksualitas ini sejak ia dilahirkan. Idealnya fitrah
ini dibangkitkan sejak seseorang hari pertama ia lahir ke dunia ini.
Namun, ada beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi proses
pembangkitan fitrah seksualitas pada anak.
Faktor-faktor ini dapat berasal dari dalam maupun luar keluarga. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.
Faktor internal dari dalam keluarga

Apa tantangan yang muncul ketika fitrah seksualitas ini tercabut
atau gagal dibangkitkan?
Ada beberapa tantangan yang kemudian muncul ketika fitrah ini tercabut
atau gagal dibangkitkan. Dalam berbagai macam kondisi, fitrah seksual ini
bisa saja hilang sehingga kelak akan membawa permasalahan. Anak-anak
yang tercabut dari fitrah seksualitasnya bisa saja mengalami gangguan
kejiwaan hingga penyimpangan seksual. Beberapa diantaranya adalah
fenomena LGBTQ (lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer),
kejahatan seksual pada anak, hingga kekerasan dalam rumah tangga.
Tantangan yang akan kami bahas dalam diskusi ini berkaitan dengan isu
penyetaraan gender (gender equality).
Apa kaitan fitrah seksualitas dengan isu penyetaraan gender? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) gender diartikan dengan, jenis kelamin Arti tersebut hampir sama dengan kata seks. Namun demikian, gender dan seks dalam beberapa bahasan diartikan dengan dua hal yang berbeda. Seks adalah dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat ketika lahir. Gender lebih merujuk pada tingkah laku, perasaan, dan sikap yang diasosiasikan dengan jenis kelamin seseorang berdasarkan kontruksi sosial di masyarakat. Secara lebih rinci perbedaan antara seks dan gender ada dalam tabel berikut ini.
“Gender Equality means that women and men have equal conditions for realizing their full human rights and for contributing to, and benefiting from, economic, social, cultural and political development. Gender equality is therefore the equal valuing by society of the similarities and the differences of men and women, and the roles they play. It is based on women and men being full partners in their home, their community and their society.”
Dalam pengertian di atas jelas disebutkan adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan serta peran dari masing-masing. Namun permasalahan yang terjadi adalah seringkali keadaan sosial tentang penyerataan gender (gender equality) membuat seseorang seolah melupakan fitrah seksualnya. Tidak sedikit yang mengartikan penyetaraan gender ini sebagai usaha untuk menyamaratakan peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Sehingga anak yang tidak cukup dikenalkan oleh fitrah seksualitasnya, kelak mungkin menjadi kebingungan mengenai identitasnya sendiri. Untuk itulah peran orang tua sangat dibutuhkan. Anak-anak harus didekatkan kepada ibu dan ayahnya sesuai dengan tahapan usianya. Sehingga anak tidak hanya melihat satu sisi saja, tetapi menjadi dua sisi, yaitu sisi maskulinitas dan feminitas secara seimbang. Pada kenyataannya isu kesetaraan gender ini seringkali digunakan sebagai wahana pembenaran atas fenomena gender di masyarakat saat ini , seperti hal berikut ini:
Bagaimana peran keluarga untuk menumbuhkan fitrah seksualitas?
Rumah adalah gerbang pertama dan utama (dan yang paling mudah dikendalikan) untuk memastikan setiap anak paham akan fitrah seksualitasnya. Beberapa usaha yang dapat dilakukan dalam membangkitkan fitrah seksualitas ini, diantaranya adalah sebagai berikut ini:
Apa itu fitrah seksualitas? Menurut Harry Santosa, penulis buku “Fitrah Based Education”, fitrah seksual adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa, dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.1 Mengapa fitrah seksualitas ini perlu dibangkitkan? Jawabannya sederhana, karena laki-laki dan perempuan itu berbeda. Perbedaan ini terlihat tidak hanya dari segi fisik, tetapi juga dari anatomi otak yang kemudian berpengaruh pada cara seseorang berfikir dan bertindak.
Kapan fitrah seksualitas ini gagal dibangkitkan?
Fitrah itu sendiri adalah bawaan lahir2 maka pada dasarnya, setiap
manusia memiliki fitrah seksualitas ini sejak ia dilahirkan. Idealnya fitrah
ini dibangkitkan sejak seseorang hari pertama ia lahir ke dunia ini.
Namun, ada beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi proses
pembangkitan fitrah seksualitas pada anak. Faktor-faktor ini dapat berasal dari dalam maupun luar keluarga. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.
Faktor internal dari dalam keluarga

- Ketidakpahaman orang tua/pengasuh mengenai fitrah seksualitas ini. Misal: memaklumi mandi bersama dan tidur lintas gender dengan alasan masih kecil.
- Kurangnya peran aktif orang tua di dalam membersamai anak. Misal: karena tuntutan pekerjaan, ayah jarang bermain bersama anak sehingga kekurangan figur ayah.
- Perkembangan fitrah seksualitas orang tua yang tidak sempurna akibat kesalahan didik di masa lalu yang menyebabkan ketidakjelasan porsi peran ayah dan ibu. Misal: ayah galau, ibu dominan.
- Adanya pendapat umum bahwa laki-laki harus lebih berani dan mandiri dari perempuan. Hal ini menyebabkan anak laki-laki (terutama yang beranjak remaja) enggan dekat dengan orangtuanya. Demikian pula dengan orangtua yang cenderung lebih “membebaskan” anak laki-lakinya.
- Adanya kekeliruan dalam peran gender, misalnya anak laki-laki dilarang menangis. Karena laki-laki dianggap kuat. Anak laki-laki tidak boleh mengerjakan pekerjaan domestik karena itu merupakan pekerjaan perempuan. Bukan tidak mungkin kelak, anak tersebut menjadi kurang empati terhadap istri. Bahkan menyerahkan tugas penuh mendidik anak hanya kepada istrinya saja.
- Ketidakseimbangan gender guru/tenaga pendidik di fasilitas pendidikan. Guru pendidikan usia dini hingga sekolah dasar umumnya adalah wanita. Sebuah riset sederhana, menunjukkan bahwa sebuah kelas yang diasuh oleh guru yang sepasang (laki-laki dan perempuan) menunjukkan keseimbangan pertumbuhan emosional dan rasional yang lebih baik.
- Tayangan dan tontonan media yang tidak mendukung. Misal: Tayangan televisi yang menampilkan para laki-laki berdandan seperti wanita.
Apa kaitan fitrah seksualitas dengan isu penyetaraan gender? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) gender diartikan dengan, jenis kelamin Arti tersebut hampir sama dengan kata seks. Namun demikian, gender dan seks dalam beberapa bahasan diartikan dengan dua hal yang berbeda. Seks adalah dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat ketika lahir. Gender lebih merujuk pada tingkah laku, perasaan, dan sikap yang diasosiasikan dengan jenis kelamin seseorang berdasarkan kontruksi sosial di masyarakat. Secara lebih rinci perbedaan antara seks dan gender ada dalam tabel berikut ini.
“Gender Equality means that women and men have equal conditions for realizing their full human rights and for contributing to, and benefiting from, economic, social, cultural and political development. Gender equality is therefore the equal valuing by society of the similarities and the differences of men and women, and the roles they play. It is based on women and men being full partners in their home, their community and their society.”
Dalam pengertian di atas jelas disebutkan adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan serta peran dari masing-masing. Namun permasalahan yang terjadi adalah seringkali keadaan sosial tentang penyerataan gender (gender equality) membuat seseorang seolah melupakan fitrah seksualnya. Tidak sedikit yang mengartikan penyetaraan gender ini sebagai usaha untuk menyamaratakan peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Sehingga anak yang tidak cukup dikenalkan oleh fitrah seksualitasnya, kelak mungkin menjadi kebingungan mengenai identitasnya sendiri. Untuk itulah peran orang tua sangat dibutuhkan. Anak-anak harus didekatkan kepada ibu dan ayahnya sesuai dengan tahapan usianya. Sehingga anak tidak hanya melihat satu sisi saja, tetapi menjadi dua sisi, yaitu sisi maskulinitas dan feminitas secara seimbang. Pada kenyataannya isu kesetaraan gender ini seringkali digunakan sebagai wahana pembenaran atas fenomena gender di masyarakat saat ini , seperti hal berikut ini:
- Pendidikan perempuan diarahkan untuk mengambil tugas ekonomi laki-laki secara penuh dan melupakan tugas sebagai seorang istri dan ibu.
- Kaum laki-laki terbuai hingga melupakan kodratnya sebagai qowwam ‘ala an-nisa’ (pelindung kaum wanita).
- Pendidikan berorientasi materialisme menjauhkan perempuan dari keinginan berumah tangga dan memiliki anak.
- Hal yang paling ekstrem, ide kesetaraan gender ini berujung pada kebebasan memilih dan mengganti jenis kelamin.
Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah dampak dari isu ini?
Solusi mendasar yang dapat dilakukan adalah memastikan setiap anak
memahami fitrah seksualitasnya. Ketika seseorang paham sepenuhnya
apakah ia laki-laki ataukah ia perempuan, maka ia akan berfikir dan
bertindak selayaknya laki-laki atau selayaknya perempuan.
Sehingga nantinya kesetaraan gender bukan lagi konsep harus sama
antara perempuan dan laki-laki. Karena pada dasarnya secara biologis,
laki-laki dan perempuan berbeda. Sehingga ketika memahami konsep
gender dan fitrah seksualitas, anak laki-laki dan perempuan menjadi
tahu identitasnya. Bukan sama persis tapi harmonis, yaitu saling
melengkapi.
Bagaimana peran keluarga untuk menumbuhkan fitrah seksualitas?
Rumah adalah gerbang pertama dan utama (dan yang paling mudah dikendalikan) untuk memastikan setiap anak paham akan fitrah seksualitasnya. Beberapa usaha yang dapat dilakukan dalam membangkitkan fitrah seksualitas ini, diantaranya adalah sebagai berikut ini:
- Mengajarkan nilai-nilai agama dalam keluarga. Islam jelas-jelas membedakan laki-laki dan perempuan. Misal. Mengenalkan mahram, memisahkan tidur anak laki-laki dan perempuan, perbedaan aurat antara laki-laki dan perempuan, dan hal lainnya.
- Memastikan orang tua memiliki kesamaan pengertian dan cara pandang mengenai fitrah seksualitas ini, sehingga mampu menjadi figur yang sesuai dengan perannya.
- Memastikan pengasuh (nenek, kakek, babysitter, guru daycare/TK) mengetahui prinsip pendidikan fitrah seksualitas yang dijalankan oleh orang tua, sehingga muncul konsistensi dan menghindarkan anak dari kebingungan. Misal: memberi pengertian ke neneknya untuk tidak menidurkan anak laki-laki seranjang/sekamar dengan sepupu perempuannya.
- Orang tua membersamai anak secara seimbang sesuai dengan tahap perkembangan usianya.
- Tidak membedakan anak laki-laki dan anak perempuan dalam hal kebutuhan akan waktu, perhatian, dan kasih sayang.
- Komunikasi yang baik antara anak dan orang tua. Orang tua tidak pernah menyerah untuk berusaha dekat dengan anak. Memasuki usia pra-remaja (10-14 tahun) anak cenderung mulai menjauh dari orangtua karena alasan gengsi, takut dibilang anak mami, dan lainlain, padahal usia ini puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.
- Ketahanan keluarga dalam memegang teguh nilai-nilai moral dan keagamaan. Tidak mudah terpengaruh dengan nilai-nilai yang menyimpang, meskipun di sekitar lingkungannya menganut paham tersebut.
Dalam diskusi persentasi kali ini, banyak sekali contoh dan dampak yang terjadi jika fitrah seksualitas dan pemahaman kesetaraan gender tidak dapat dipahami oleh anak. Oleh karena nya memastikan setiap anak memahami fitrah seksualitasnya itu sangat penting. Ketika seseorang paham sepenuhnya maka ia akan berfikir dan bertindak selayaknya laki-laki dan selayaknya perempuan. Anak laki-laki dan perempuan menjadi tahu identitasnya. Bukan sama persis tapi harmonis, melengkapi satu sama lain.
Sumber :
- Santosa, Harry. Fitrah Based Education. (Yayasan Cahaya Mutiara Timur) 2017 (cetakan ketiga). Halaman 188.
- Pengertian fitrah berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Diakses dari https://kbbi.web.id/fitrah (diakses 27 September 2018 pukul 18.30).
- Santosa, Harry. Fitrah Based Education. (Yayasan Cahaya Mutiara Timur) 2017 (cetakan ketiga). Halaman 190.
- PKBI DIY, Tim. Pengertian Dan Perbedaan Gender Dengan Seks. https://pkbi-diy.info/pengertian-dan-perbedaan-gender-dengan-seks (dia kses 28 September 2018 pukul 11.30).
- Pawitasari, Erma Dr. Biarkan Perempuan Berlari Seperti Perempuan, ‘Salah Kaprah’ Pendidikan Gender. https://www.republika.co.id/berita/koran/news-update/15/06/18/nq4x4qbiarkan-perempuan-berlari-seperti-perempuan-salah-kaprahpendidikan-gender (diakses 28 September 2018 pukul 13.00)
#harike11
#tantangan10hari
#level11
#kuliahbundsayiip
#fitrahseksualitas
Irma Tazkiyya
Jeddah, KSA






Komentar
Posting Komentar