Langsung ke konten utama

Saat Sang Buah Hati Sakit - part 2



Panas tubuh anak ku naik lagi, saat ini 39,3°C. Tidak mau makan minum, mau nya hanya nempel nenen saja, padahal sebagai ibu yang sedang mengandung 6 bulanan produksi ASI ku sudah tidak sebanyak dulu, mungkin hampir tidak ada ASI yg keluar. Awal mengetahui hamil lagi, saat qifa berusia 8 bulanan, ada rasa khawatir dan juga sedih karena tidak bisa memberikan ASI genap 2 tahun untuk anak pertama ku. Rencana kami sebagai orangtua untuk program mempunyai anak lagi saat qifa berusia 2 tahun, namun karena sebelumnya saya dan suami LDM, jadi tidak sempat KB, dan takdir Allah mengizinkan kami untuk punya anak lagi di usia qifa yang belum genap 2 tahun.

Konsultasi dibeberapa dokter kandungan, ada yang memperbolehkan menyusui saat hamil dengan syarat kondisi ibu sehat, nutrisi terpenuhi dan tidak ada kontraksi atau nyeri di bagian perut. Ada juga dokter yang menganjurkan untuk menyusui sampai usia kehamilan 5 bulan dan setelah itu stop ASI untuk anak pertama. Namun, setelah berdiskusi dan membaca beberapa literatur baik secara medis maupun secara agama, akhirnya saya memutuskan untuk terus menyusui anak saya dengan melihat kondisi saya sebagai ibu. Frekuensi qifa menyusui saat sehat juga tidak terlalu sering, hanya waktu waktu tertentu saja karena untuk makan dan minum susu formula dan UHT qifa termasuk lumayan banyak. Namun, karena saat ini qifa sedang sakit, yang qifa mau hanya di peluk, di gendong, dan pastinya nenen sm mamah nya, entah produksi ASI nya banyak atau sedikit yang jelas ketika lepas nenen, qifa langsung terbangun dan menangis. Nenen ibarat doping buat sang buah hati.

Karena tubuh ku saat ini juga sedang tidak fit, rasa nya sangat lelah jika harus terus terusan menggendong qifa, akhirnya saya memutuskan untuk membawa qifa berobat ke klinik yang dekat rumah kami.

Sesampainya di klinik (klinik tipe C), seperti biasa kami mendaftar dan mengantri ke poli dr. Spesialis anak. Antrian yang cukup panjang, saat menunggu, qifa di gendong papahnya, dan qifa muntah hebat serta banyak, baju papahnya kotor karena ditumpahi muntah qifa, qifapun juga demikan, saya segera ambil alih yang memegang qifa dan membersihkan muntahan serta mengganti baju qifa. Segera setelah itu, saya memutuskan untuk ke emergancy, saya khawatir kalau qifa mengalami dehidrasi. Namun, saya merasa emergancy disini tidak tanggap, sang suami datang ke custumer service (CS) mengadukan keluhan kami, CS langsung menghubungi ruangan dokter anak nya dan meminta untuk anak kami didahulukan pemeriksaan nya karena kondisi nya saat ini. Akhirnya kami diminta untuk ke atas lagi karena ruangan dokternya memang berada di lantai 2. Namun sesampainya di atas ternyata tidak ada respon seperti yang di bicarakan CS nya, padahal kami sudah melapor ke perawat nya. Kami harus menunggu lagi. Karena melihat kondisi anak, kami turun lagi untuk ke emergancy, dan mengadukan hal ini ke CS, akhirnya CS menyarankan kami menunggu di emergancy, saat menunggu kami melihat ada keluarga pasien yang marah marah karena tidak di tangani cepat. Melihat fenomena itu, sang suami bilang, “ayooo kita pulang saja, sudah nunggu lama lama tpii tidak cepat di tangani, saya tidak mau ke rumah sakit ini lagi” (bicara sambil menahan kesal + marah)

Papah: “syg (sebutan suami ke saya) mau cari rumah sakit lg?”
Mamah: “sekarang sudah jam 11 malam, cari rumah sakit lgi, pastinya akan mengantri lgi, dan kondisi mamah juga sudah lelah banget, anak kita juga sepertinya demamnya juga sudah turun dan mamah lihat tanda tanda dehidrasi tidak ada, bismillah kita rawat di rmh saja, ada obat juga di rumah”
Papah: “ oohh yah sudah yank”

Sesampainya di rumah, saya coba memberikan air zam zam, alhamdulillah walau sedikit akhirnya mau juga diminum, papah sediakan susu di botol. Setelah itu kita baringkan ke tempat tidur dan mulai menyusui qifa lagi, saat ini saya hanya bisa menyusui di sebelah kiri saja, puting susu sebelah kanan sudah lecet ada bagian yang robek karena di gigit qifa.

Sepanjang malam qifa menyusui sebelah kiri, sebenarnya saya pegel banget karena tidak bisa gantian dengan sebelah kanan untuk menyusui, namun karena didampingi oleh suami dan suami bantu pijat punggung saya, alhamdulillah sedikit terobati pegal nya.

Setiap saat mamah selalu membisikan ke qifa, qifa anak yang kuat dan harus cepat sehat. Mamah yakin dengan doa, usaha dan kalimat-kalimat positif ke qifa, qifa akan segera sehat kembali. Aamiin



Jeddah, 5 November 2017
Irma Tazkiyya 
#hari 4
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengamati Gaya Belajar Anak -Part10

"Ibu, sini irma cek tensi ulang, kemarin kan tekanan darah ibu rendah". Saut ku kepada nenek nya qifa.  Sambil mengambil alat tensi yang tersimpan di lemari. Sambil memegang tangan kiri ibu, saya melilitkan manset alat tensi ke lengan ibu.Saya sadar ada anak kecil yang sibuk memerhatikan kami. Dia adalah qifa. 😍 Selesainya saya memeriksa tekanan darah ibu, qifa langsung mengambil alih alat tensi dan stetoskop yang saya pakai. Qifa mengulang apa yang saya kerjakan, dari memasang stetoskop di telinganya sampai melilitkan manset ke lengan neneknya. Walaupun letak manset yang dipasangnya salah. 😆 Dengan gaya seakan-akan 'mahir' melakukan pemeriksaan tekanan darah, qifa mengoceh-ngoceh ga jelas, seakan menjelaskan hasil pemeriksaan kepada neneknya. Ahhhh.. anak cerdas. Saut ku kepada qifa. Saat ini qifa memang senang sekali meniru apa yang dia lihat. Senang menggoyangkan kepala jika ada musik yang didengarnya. Bisa menyelesaikan puzzle-puzzle dengan melihat le...

Anjing dan kucing

Hari ini mamah cerita sambil menyusui adek mamduh. Tentang anjing dan kucing, karena qifa sedang memainkan boneka anjing, mamah langsung bercerita tentang anjing dan kucing. "Anjing dan kucing itu berbeda, namun mereka saling sayang, qifa sama adek mamduh juga yah, harus saling sayang, saling melindungi yah nak" #tantangan10hari #harike9 #level10 #kuliahbundsayiip #GrabYourImagination Irma Tazkiyya Jeddah, KSA

Saat Sang Buah Hati Sakit - part 3

Alhamdulillah panas anak saya sudah berangsur turun, saat ini suhu tubuh qifa dalam batas normal. Namun batuk dan flu nya masih menghantui tubuh si kecil. Saya pun juga masih tidak tidak fit, sebagai ibu hamil yang sedang mengurus anak sakit itu capek nya double, perut bawah terasa kram dan jika berjalan terasa ngilu… 👩: "sayang (panggilan ke suami), perut  mamah terasa kram", sambil memeluk suami dan tak terasa diri ini menangis. 👨: "tuh kan, kamu dah KO syg, kita sewa pembantu aja yah, buat bantu-bantu mamah dirumah, sekarang anak lagi sakit, nanti gimana klau anak kita udah lahir, mamah sanggup ngurus semuanya sendirian?" 👩: "Emmm, sambil mikir, sewa pembawa mau bayar berapa syg?" 👨: "Bayar nya 100SR/ bulan, hahahaaa 😃😅" 👩: masih dalam pelukan suami, dari menangis jadi ketawa...😅 Beginilah sang suami tercinta, disela-sela sedih, lelah, capek, dia slalu pintar untuk menghibur. Komunikasi produktif sangat penting untuk...