Langsung ke konten utama

Jurnal minggu ke-4


بسم الله الرحمن الرحيم

Saya masuk dalam keluarga besar manajemen emosi yang diberi nama "Inside Out Family," kemudian kami mengisi form pendataan untuk di masukkan ke dalam keluarga kecil yang dibagi menjadi beberapa sub-topik, diantaranya: Self Healing, Inner Child, Manajemen Konflik dan Manajemen Marah.


Secara garis besar yang saya pelajari selama satu minggu ini adalah: 

1. Di dalam keluarga kecil 'Manajemen Marah'
Saya masuk di sub-topik manajemen marah. Ketika masuk keluarga ini, ada yang share terkait mengendalikan marah melalui channel Facebook Ustaz Bendri Jaisyurrahman memberikan ceramah yang 'jleb' banget dihati. Beliau mengatakan, sebagai orangtua sudah ikut pelatihan parenting yang berbayar atau free, sudah baca buku parenting, baca terkait manajemen marah, tetapi ko masih gampang marah-marah sama anak. Itu tandanya kurang siraman spiritual, cobalah rutinkan bangun malam tahajud, serta membaca Al-qur'an dengan tartil. Berdoa memohon kepada Allah, sang pemilik hati ini.

Ada juga yang share tentang bahasa kasih dari dr. Aisyah Dahlan, katanya manusia itu punya 5 bahasa kasih, antara lain:
  • Sentuhan fisik
  • Pujian
  • Hadiah
  • Waktu
  • Pelayanan
Bahasa kasih itu apa? Bahasa yg menyebabkan seorang manusia merasa dicintai oleh manusia lainnya. Bisa orang tua terhadap anak atau kita terhadap suami. Bahasa kasih ini perlu supaya dalam keluarga saling merasa dicintai satu sama lain.

Contohnya, ada anak yang senang banget peluk ibunya. Nah, sebagai orang tua harusnya kita memahami bahwa anak tersebut bahasa kasihnya adalah sentuhan fisik. Dia merasa disayangi orang tuanya ketika dihujani pelukan, belaian, kecupan sayang. Dengan merasa dicintai ini maka tangki cintanya akan penuh, akan membahagiakan. Insya Allah anak akan bertingkah baik ke kita karena dia merasa kalau kita full mencintainya. Ini seperti anak pertama saya, senang sekali dipeluk, dicium dan di gendong. Kalau anak laki-laki saya yang masih berusia 2 tahun, sepertinya bahasa kasihnya pujian atau apresiasi. Jadi kalau adik sudah melakukan suatu hal yang baik dan positif, saya suka memberikannya apresiasi, dan seketika wajahnya langsung sumringah senang.

Ohh ya, marah itu boleh, seperti juga boleh senang. Tetapi yang tidak boleh marah dalam 4 hal: menyakiti tubuh, memaki (menyebut label buruk), merusak dan membentak/ teriak. Lalu karena marah itu adalah salah satu emosi, sama seperti rasa sedih, senang dan lain-lain. Jadi memang harus diekspresikan agar tidak menumpuk dan pada akhirnya bisa meledak di waktu yang tidak tepat. Intinya boleh marah, tapi ekspresikanlah dengan cara yang tepat jangan sampai berlebihan. Lalu bagaimana cara mengeluarkan emosi marah?

  • Curahkan seluruh hati kepada Allah atau kepada orang terdekat dan terpercaya.
  • Ubah konsep diri. ‘Saya adalah ibu dan istri yang sholehah, saya adalah ibu dan istri yang sabar.’ dan lain-lain.
  • Dengan cara melakukan terapi menulis, menggambar atau yang lainnya.
  • Bisa dengan kegiatan fisik, misalnya membersihkan kamar mandi, namun kegiatan ini hanya dapat menghilangkan emosi secara sesaat saja.
  • Jangan lupa untuk mengapresiasi diri.
Kemudian, bagaimana cara mencegah marah?
  • Jika sudah merasakan tanda marah, beri jeda, diamlah minimal 3 detik agar lebih tenang dan tidak menyesali perkataan atau perbuatan kita ketika dikuasai emosi marah.
  • Tarik nafas dalam-dalam, lalu keluarkan perlahan.
  • Gigit lidah, lalu baca istighfar dalam hari.
  • Jika belum berhasil, coba berpindah tempat. Bisa dengan mundur beberapa langkah atau pindah ruangan. Beri jeda kepada diri sendiri untuk berpikir.
  • Teknik reframing. Lihat masalah dari sudut pandang di luar diri kita.
Yang tidak kalah penting adalah, bagaimana cara agar kestabilan jiwa kita bisa tetap baik?
Pertama shalatlah dengan tenang, tidak terburu-buru, perbanyak shalat malam, bershodaqoh, husnudzon kepada Allah, perbaiki cara komunikasi dengan suami dan anak.
2. Keluarga besar 'Inside Out Family'
Saat ini keluargaku mengajarkan banyak hal. Menjadi seorang ibu yang berusaha untuk memberikan pola asih-asuh-asah yang baik terhadap anak-anak. Namun, beberapa kali mengalami rasa bersalah, karena mengulang kesalahan yang sama. Memohon maaf, ku peluk tubuh mungilnya. Kuterima senyum manis, dan kuterima balasan pelukan yang lebih hangat darinya. 

Diskusi pertama:
“Tuntas Inner Child dan Pengasuhan yang lebih baik” oleh Shinta Rini, M.Psi, Psikolog
Diskusi melalui Telegram kali ini di keluarga manajemen emosi sangat menambah ilmu baru.
Di awali dengan materi yang dapat di lihat melalui link  https://drive.google.com/file/d/1-QCHEx0TMmUIOCTIWgpHXcooUDbhUpZ_/view?usp=drivesdk 

Apa itu Inner Child
  • Pengalaman masa lalu yang sangat kuat, dimana kita meniru tingkah laku, kata-kata, peristiwa dari masa lalu, sehingga membentuk pikiran, keyakinan, dan perilaku yang kita lakukan saat ini.
  • Inner Child yang menyenangkan (positif): kreatif, tidak pantang menyerah, dicintai orang tua. 
  • Inner Child yang terluka (negatif): trauma, luka pengasuhan orang tua, fobia, dll
Inner Child Terluka :
  • Luka pengasuhan orang tua di masa kecil yang belum tuntas
  • Inner child yang terluka muatan emosi negatifnya kuat, belum tuntas, berusaha dilupakan namun sangat mempengaruhi pikiran, perasaan dan perilaku Ibu saat ini
  • Saat Ibu lelah, lapar,ngantuk, stres dan marah, inner child terluka akan membajak emosi dan menampilkan emosi yang tidak sesuai dengan usia saat ini, tidak adaptif.
  • Contoh : Ibu yang marah saat anaknya membantah kata-kata ibunya, ternyata saat ibu di masa kecil sering di bilang “anak durhaka” saat ia mengungkapkan pendapat, keinginan dan perasaannya ke ibunya
Kondisi yang menjadi pencetus munculnya Inner child terluka :
  • Tuntutan pekerjaan rumah, bisnis, organisasi yang harus segera diselesaikan 
  • Suami menyerahkan pengasuhan anak sepenuhnya kepada Ibu
  • Manajemen waktu yang belum optimal
  • Sulit mengelola emosi dan stres
  • Sulit mengendalikan perilaku Anak
  • Kurang mendapatkan perhatian dan penerimaan
  • Terlalu lelah, kurang istirahat, banyak pikiran
  • Merasa tertekan saat berhubungan dengan mertua dan kakak ipar
  • Masalah Ekonomi
  • Komunikasi yang kurang hangat dengan suami, dll
Cara Kerja Pikiran Bawah Sadar:
  • Ingatan dapat melupakan sebuah kejadian, tetapi RASA, KEYAKINAN, dan EMOSI yang berhubungan dengan kejadian itu tertinggal disana selama makna masih ada.
  • Belief system: Jagalah lisan, jangan mudah LABELLING, melarang, mengancam tanpa alasan. 
  • Pikiran --> Ucapan --> Tindakan --> Kebiasaan --> Karakter 
  • Tiap Perkataan adalah DOA, Perilaku menguatkannya
  • Respon Positif  --> Hasil Positif dan Respon Negatif --> Hasil Negatif.
Tidak ada seorang pun yang bisa menghindari berbagai pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan dan tidak diharapkan terjadi, namun Allah memberi kita kemampuan untuk bisa merubah keadaan kita menjadi lebih baik dengan pertolongan Allah. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.Ar-Ra'd:11)
Segala pengalaman tidak menyenangkan, menakutkan dan trauma yang kita alami terjadi atas izin dan sepengetahuan dari Allah 
Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs At Taghaabun: 11)

Diskusi kedua:
Self Healing dengan Sadar Nafas oleh Fachecha, Praktisi Self Healing.

Diskusi kali ini diberikan audio dan materi bacannya. Link audionya https://drive.google.com/file/d/1UOkpuVL6B45Oxut5BqUgr-t9szbvRUTn/view?usp=drivesdk dan materi mengenali sensasi tubuh dan sensasi emosi (rasa) dengan sadar nafas dengan link https://docs.google.com/document/d/1w6qz-YeVkTrX2J-__rR94u4-qNZNkJet_90zzlUTTSI/edit?usp=drivesdk

3. Ilmu dari Go-Live
Minggu ini saya memakan ilmu yang sejalan dengan mind map yang telah dibuat. Saya belajar ilmu dari keluarga bahasa dan keluarga literasi. 

MasyaAllah Tabarakallah, terimakasih atas segala ilmu yang diberikan para narasumber. Saya bersyukur banyak hal untuk ilmu-ilmu ini.
 
#jurnalke-4
#bundacekatan
#thejungleofknowledge
#Institutibuprofesional
#kelasulatulat
Salam dari Jeddah, KSA
Irma Tazkiyya


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Bunda Cekatan, Tahap Satu

Selamat Datang Di Kelas Telur-telur Ditahap ini kami melakukan proses belajar mengenal tentang siapa diri ini. Sehingga nantinya kami paham akan cekatan di bidang apa. Hal ini yang dapat membuat kita menentukan kebutuhan belajarnya apa saja. Mengetahui bagaimana mencarinya. LEARN, How to Learn. Belajar Merdeka, Merdeka Belajar. Senang sekali mendengar slogan ini, kita bebas untuk belajar apa saja. Dengan merdeka belajar dan belajar merdeka, secara tidak langsung merangsang berfikir dan berkreatifitas. Belajar di bunda cekatan ini adalah proses bermain bersama. Semua bisa menjadi guru, dan semua bisa menjadi murid. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah lacak kekuatan. Mengapa harus melacak kekuatan? karena kita ini spesial. Selama ini menjadi biasa saja karena kita 'sekedar' melakukan kegiatan secara rutin. Jadi ingat perkataaan Pak Dodik Maryanto 'Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu. Tidak ada hukum...

Mengamati Gaya Belajar Anak -Part10

"Ibu, sini irma cek tensi ulang, kemarin kan tekanan darah ibu rendah". Saut ku kepada nenek nya qifa.  Sambil mengambil alat tensi yang tersimpan di lemari. Sambil memegang tangan kiri ibu, saya melilitkan manset alat tensi ke lengan ibu.Saya sadar ada anak kecil yang sibuk memerhatikan kami. Dia adalah qifa. 😍 Selesainya saya memeriksa tekanan darah ibu, qifa langsung mengambil alih alat tensi dan stetoskop yang saya pakai. Qifa mengulang apa yang saya kerjakan, dari memasang stetoskop di telinganya sampai melilitkan manset ke lengan neneknya. Walaupun letak manset yang dipasangnya salah. 😆 Dengan gaya seakan-akan 'mahir' melakukan pemeriksaan tekanan darah, qifa mengoceh-ngoceh ga jelas, seakan menjelaskan hasil pemeriksaan kepada neneknya. Ahhhh.. anak cerdas. Saut ku kepada qifa. Saat ini qifa memang senang sekali meniru apa yang dia lihat. Senang menggoyangkan kepala jika ada musik yang didengarnya. Bisa menyelesaikan puzzle-puzzle dengan melihat le...

Anak adalah Bintang. -part3

Qifa (22 bulan) senang banget kalau dengar suara musik. Kalau ada musik atau lagu anak anak qifa langsung spontan saja ikut bernyanyi dengan khas suara bayi nya 😍 Kalau dilihat dari orang tua nya, sama sekali ga ngerti sama musik. Papah nya si bisa dibilang cukup bagus suaranya buat bernyanyi. Nahhh, apalagi mamah nya, bagus banget tpii lebih bagus lagi kalau diam 😂😂... Ada cerita saat qifa lagi nangis karena dilarang mamah nya untuk minum air es karena sedang batuk pilek, dialihkan dengan musik langsung diam dan langsung senyum- senyum 😅. Kalau dilihat lihat, jika dengar suara musik atau lagu lagu qifa langsung bereaksi happy, jangan jangan qifa punya bakat bermusik.. Entahlah, apapun nanti bakat mu nak, mamah akan dukung kamu slalu. 😍 #tantanganlevel7 #day3 #semuaanakadalahbintang #institutibuprofesional #kelasbundasayang Irma Tazkiyya Jeddah, KSA